THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 07 Januari 2010

eksplorasi migas dan mineral




Nengok eksplorasi migas bentar ya ….
Mengapa Indonesia Timur ini agak lambat eksplorasi migasnya ?
Memang Indonesia Timur ini beda jauh secara geologi dari Indonesia Barat. Kalau pelajaran jaman sekolah SMP dulu yang barat disebut Dataran Sunda dan yang timur Dataran Sahul. Saat ini geoscience menyebutnya untuk bagian barat sebagai Sunda Shelf (paparan Sunda) bagian dari Eurasia Plate. Sedangkan yang timur bagian dari Australian Plate. Sakjane dulu batasnya sudah diperkirakan oleh ahli biologi Wallace, disebut Wallace line.
Cirinya Indonesia barat lautnya dangkal, Indonesia Timur lautnya sangat dalam. Namun ada yg dangkal di sebelah selatan Pulau Irian, yg merupakan kepanjangan dari Australia. Geologi Indonesia timur lebih kompleks karena tektonik tumbukannya juga dipengaruhi merangsuknya plate/kerak samodra dari Timur. Ini yg membuat Filipina makin runyem struktur lipatan dan patahan geologinya.
indonesia
Secara historis,
Indonesia barat diketemukan migas lebih dahulu dibanding Indonesia Timur. Dibornya sumur Talaga Said akhir abad 19, merupakan sumur tertua di Indonesia dan kedua di dunia. Eksplorasi selanjutnya merembet hingga Balikpapan. Hampir semua eksplorasi diketemukannya migas ada di Indonesia Barat. Disini secara tidak sengaja pengetahuan kita tentang Indonesia Barat lebih maju, dan Pengetahuan geologi Indonesia Timur menjadi tertinggal.
Secara geologis
Irian dan laut arafura yg cukup “dangkal” ini lebih mirip kondisi geologi NWShelf Australia hingga Timor Gap area. Itulah sebabnya dulu ARCO sekarang BP yang menemukan lapangan Gas Wiriagar (Kompleks Tangguh Field), mendekati dari pengetahuan geologinya dari Australi dan Nugini. Orang-orang Indonesia lebih sering mendekati geologi dari arah Indonesia Barat jelas susah nyambungnya.
Latar belakang pengetahuan, operasi dan teknologi
Karena kompleksnya geologi serta historis diatas, maka Indonesia timur hanya sedikit dipelajari. Secara operasi juga karena lautnya cukup dalam menjadikan teknologi drillingnya tertinggal. Nah kalau sesuai dengan uraian anda dengan new tekno mungkin nantinya (dan seharusnya sudah mulai) akan dikerjakan eksplorasinya.
Sayangnya daerah Indonesia Timur ini tidak termasuk diantara 41 blok (daerah) yg ditawarkan Migas bulan Agustus kemarin. Ntah mengapa aku ngga ngerti. Padahal ada Amborip Block disekitar Arafura itu yg masih belum “laku” (mungkin masih terbuka, aku mesti chek lagi!). Sedangkan Banda Sea yg laut sangat dalam ini pengetahuan geologinya orang-orang saat ini masih gelappp !!
Coba tengok 41 daerah yg ditawarkan 2006
Kendala operasi lainnya adalah, Indonesia ini kan sepertinya “juwalan” daerah untuk mengundang investor. Tetapi kesulitannya karena sepertinya banyak yg ngga tahu geologinya, ya gimana mau ngejualnya ? Misalnya berapa harga jualnya kan sulit nentuinnya, berapa splitnya yang menarik, bagaimana term eksplorasinya dll.
Latar politis, barangkali saja ada atau hanya efek yg diatas itu. Nah kalau ini njenengan aja yg njelasin aku ra mathuk :)
Yang aku tahu hanyalah:
- MIGAS tugasnya mengkapling2 blok utk “dijual”,
- BPMIGAS ini badan lain tugasnya mengawasi perusahaan kontraktor2 (KPS), misal Exxon, Chevron, Petronas dll … yg jumlahnya mungkin 60an lebih. Termasuk Lapindo, Medco dan juga Pertamina.
- Pertamina sendiri, ini yg dulu memegang ketiganya. Sekarang dibagi 3 spt diatas itu dan anda yg lebih tahu mengapa dibagi2 (lebih tepatnya dipecah).
Ketiga institusi diatas semuanya berada dibawah RI-1.
peta-lisensi pengerjaan eksplorasi migas
Indonesia Timur lebih maju dalam eksplorasi mineral bijih.
Indonesia Timur ini walaupun eksplorasi migasnya agak ketinggalan dari Indonesia Barat, namun sebaliknya dalam eksplorasi mineral bijihnya sangat maju. Anda tentunya tidak kaget dengan Freeport. Bijih cukup besar di Freeport berada di Irian Barat eh Papua. Bahkan dahulu ada pameo diawal kuliahku geologi tahun 80-an. Bahwa Indonesia Timur tempatnya mineral bijih, sedangkan Indonesia barat tempatnya minyak bumi.
Berita bagus penemuan gas di Lapangan Wiriagar (yg lebih dikenal sebagai pengembangan proyek Tangguh) merupakan jendela bagus perkembangan Migas Indonesia Timur. Dahulu juga ada berita pertambangan Indonesia barat yg menggegerkan, yaitu dengan berita penemuan tambang emas Busang yg ternyata “HOAX”. Aku pikir dulu Busang sebagai jendala atau pintu pembuka mineral bijih Indonesia Barat, ternyata salah.
Walau RUU Minerba masih dibahas” terus di DPR (sudah 6 tahun lebih), ada berita bagus perkembangan mineral bijih Indonesia barusaja datang dari kawan di pertambangan yg mengabarkan, beritanya ada disini. Juga kawan iagi lainnya mengabarkan beberapa perusahaan mineral bijih sudah kebelet mengekplorasi di daerah Sumatra.

Perkembangan Teknologi Eksplorasi dan Eksploitasi Migas

Perkembangan Teknologi Eksplorasi dan Eksploitasi Migas
 Contributed by Hatta Harris Rahman
(Jakarta, MADINA): Penerapan teknologi pada industri minyak dan gas (migas) kini menghadapi tantangan berat dari
soal peningkatan produksi, inefisiensi biaya, meroketnya harga minyak dunia hingga tuntutan dampak pencemaran
lingkungan.
Dalam Acara Offshore Northern Seas (ONS) Conference and Exhibition di Stavanger, Swedia. Beberapa waktu lalu
dipamerkan beberapa teknologi terbaru Eksplorasi dan Eksploitasi Migas. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
DESDM mengatakan, perkembangan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas terutama pada kawasan offshore dan
laut dalam sudah sangat pesat, sehingga dengan teknologi terbaru ini selain dapat meningkatkan produksi dengan
menekan losses hingga 5%, juga dapat menghemat biaya hingga sebesar 30% dalam penghematan perawatan
peralatan.

 “Selain keuntungan yang dapat diraih seperti disebutkan diatas, juga dapat menekan kemungkinan dampak
buruk terhadap kesehatan, keselamatan dan lingkungan”, lanjut Bambang Dwiyanto.

 Teknologi lainnya yang dipamerkan pada acara tersebut yaitu, teknik Total Subsea Solution dan IOR (increase Oil
Recovery). Teknologi ini mengintervensi sumur dan “Drilling Sidetracks”, pada sumur existing didasar laut
dalam, pada kedalaman lebih dari 3000 meter. Metode ini menurut Bambang Dwiyanto telah diaplikasikan tanpa
menggunakan “Jack-up Rig”, tetapi menggunakan “Riserless Light well intervention” pada
kapal yang dilengkapi dengan sistem “ Dinamic Position” dengan pemboran dilakukan menggunakan
sistem “Composite Cable” yang terhubung dengan “Trought Tubin Rotary Drilling”.
Selanjutnya menurut beliau, hal lain yang menjadi unggulan teknologi sub-sea ini ialah meningkatkan laju produksi migas
dengan cara”Subsea Produced Water Removed”, yaitu memisahkan air dan menginjeksikannya kembali
pada lubang bor lainnya. Teknologi IOR ini telah berhasil mengekstrak 19 juta barrel di sumur-sumur North Sea.

 “ Teknologi tersebut merupakan teknologi masa depan yang dapat diterapkan pada lapangan minyak dan gas
bumi di Laut Sulawesi, Selat Makasar, Laut Aru dan di Force Arc Basin dimana kedalaman lautnya melebihi 3000
meter”, ujar Kepala Badan Litbang.

 Selain teknologi diatas, dipamerkan juga produk kapal eksplorasi, kapal logistik, sea strukture, dan berbagai floating
system, integrated marine operation, galangan kapal serta konstruksi laut galangan kapal terbesar yang terletak di
Trodheim, Norwegia yang dilengkapi dengan Ocean Basin, Towing Tank, dan Cavitation Tunnel yang dapat
menghasilkan produk unggulan dengan biaya efisien.

 Sehubungan dengan upaya untuk mereduksi emisi CO2, turut didemontrasikan teknik CO2 Capture and Storage (CCS)
yang memberikan solusi dalam menginjeksikan kembali CO2 ke dalam tanah dengan cara yang aman. Sehubungan
dengan hal ini dan dalam rangka mitigasi perubahan iklim (Climate Change Mitigation) maka telah dilakukan penjajakan
kemungkinan kerjasama CSS dengan beberapa Riset Centre di industri migas.(ADMINISTRATOR/esdm.go.id)
Madina Online
http://www.madina-sk.com Powered by Joomla! Generated: 8 January, 2010, 00:48

Perkembangan Teknologi Eksplorasi dan Eksploitasi Migas

Perkembangan Teknologi Eksplorasi dan Eksploitasi Migas

JAKARTA. Penerapan teknologi pada industri minyak dan gas (migas) kini menghadapi tantangan berat dari soal peningkatan produksi, inefisiensi biaya, meroketnya harga minyak dunia hingga tuntutan dampak pencemaran lingkungan.

Dalam Acara Offshore Northern Seas (ONS) Conference and Exhibition di Stavanger, Swedia. Beberapa waktu lalu dipamerkan beberapa teknologi terbaru Eksplorasi dan Eksploitasi Migas. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan DESDM mengatakan, perkembangan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas terutama pada kawasan offshore dan laut dalam sudah sangat pesat, sehingga dengan teknologi terbaru ini selain dapat meningkatkan produksi dengan menekan losses hingga 5%, juga dapat menghemat biaya hingga sebesar 30% dalam penghematan perawatan peralatan.

“Selain keuntungan yang dapat diraih seperti disebutkan diatas, juga dapat menekan kemungkinan dampak buruk terhadap kesehatan, keselamatan dan lingkungan”, lanjut Bambang Dwiyanto.

Teknologi lainnya yang dipamerkan pada acara tersebut yaitu, teknik Total Subsea Solution dan IOR (increase Oil Recovery). Teknologi ini mengintervensi sumur dan “Drilling Sidetracks”, pada sumur existing didasar laut dalam, pada kedalaman lebih dari 3000 meter. Metode ini menurut Bambang Dwiyanto telah diaplikasikan tanpa menggunakan “Jack-up Rig”, tetapi menggunakan “Riserless Light well intervention” pada kapal yang dilengkapi dengan sistem “ Dinamic Position” dengan pemboran dilakukan menggunakan sistem “Composite Cable” yang terhubung dengan “Trought Tubin Rotary Drilling”. Selanjutnya menurut beliau, hal lain yang menjadi unggulan teknologi sub-sea ini ialah meningkatkan laju produksi migas dengan cara”Subsea Produced Water Removed”, yaitu memisahkan air dan menginjeksikannya kembali pada lubang bor lainnya. Teknologi IOR ini telah berhasil mengekstrak 19 juta barrel di sumur-sumur North Sea.

“ Teknologi tersebut merupakan teknologi masa depan yang dapat diterapkan pada lapangan minyak dan gas bumi di Laut Sulawesi, Selat Makasar, Laut Aru dan di Force Arc Basin dimana kedalaman lautnya melebihi 3000 meter”, ujar Kepala Badan Litbang.

Selain teknologi diatas, dipamerkan juga produk kapal eksplorasi, kapal logistik, sea strukture, dan berbagai floating system, integrated marine operation, galangan kapal serta konstruksi laut galangan kapal terbesar yang terletak di Trodheim, Norwegia yang dilengkapi dengan Ocean Basin, Towing Tank, dan Cavitation Tunnel yang dapat menghasilkan produk unggulan dengan biaya efisien.

Sehubungan dengan upaya untuk mereduksi emisi CO2, turut didemontrasikan teknik CO2 Capture and Storage (CCS) yang memberikan solusi dalam menginjeksikan kembali CO2 ke dalam tanah dengan cara yang aman. Sehubungan dengan hal ini dan dalam rangka mitigasi perubahan iklim (Climate Change Mitigation) maka telah dilakukan penjajakan kemungkinan kerjasama CSS dengan beberapa Riset Centre di industri migas.

Rasio Pemboran Eksplorasi Wild Cat Capai 50%

Rasio Pemboran Eksplorasi Wild Cat Capai 50%

Minggu, 3 Januari 2010 - 09:17 wib
text TEXT SIZE :  
Candra Setya Santoso - Okezone
Foto: Koran SI
JAKARTA - Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi mampu mempertahankan sucsess ratio pemboran eksplorasi wild cat mencapai 50 persen. Pencapaian success ratio sebesar ini jauh lebih tinggi dibanding rata-rata dunia yang besarannya antara 20-30 persen.

”Dengan pencapaian sebesar itu membuktikan bahwa kemampuan operator-operator perminyakan kita sudah teruji”, ujar Kepala BP Migas R Priyono dalam acara Press Conference akhir tahun antara BP Migas dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), seperti dikutip dalam situs ESDM, di Jakarta, Minggu (3/1/2010).

Dijelaskannya, KKKS sudah semakin mengenal daerah-daerah eksplorasinya, semakin menguasai teknologi eskplorasi di Asia Pasifik terutama di Indonesia.

Tahun 2009 telah dilakukan pemboran sumur eksplorasi sebanyak 73 sumur. Hingga November 2009, terdapat 50 sumur yang sudah selesai dites, dengan penemuan sebanyak 33 buah maka rasio kesuksesan pemboran sumur eksplorasi sebesar 46 persen, atau lebih tinggi dari rata-rata dunia sebesar 20-30  persen.

Pencapaian sukses rasio tersebut juga membuktikan bahwa prospek kegiatan industri hulu migas di Indonesia masih cukup menjanjikan. Wild cat (Taruhan) merupakan sumur eksplorasi yang dibor di daerah yang masih belum terbukti mengandung minyak yang berdasarkan pertimbangan geologis diharapkan mempunyai akumulasi hidrokarbon.

Dalam kesempatan yang sama R. Priyono juga menambahkan, meski produksi minyak nasional belum mencapai target (98,91  persen) namun produksi gas bumi justru melampaui target nasional yang sudah ditetapkan (106  persen). Secara jumlah Barrel Equivalent minyak dan gas tahun 2009 lebih tinggi dari tahun sebelumnya.

Meskipun dari sisi produksi tidak memenuhi sasaran APBN namun pada akhirnya menurut Kepala BP Migas pada akhirnya masyarakat menilai dari sisi penerimaan negara, dalam Rupiah maupun US Dollar. Untuk tahun 2009 sebesar USD19,7 miliar atau melebihi target sebesar USD18,8 miliar.
(css)

blowout

Kejadian Blowout (keluarnya fluida dari dalam bumi ke permukaan tidak terkendali), yang merupakan akibat langsung dari kegiatan pemboran di wilayah Sukowati dan Sidoardjo telah sangat mengagetkan masyarakat, menakutkan, dan tidak jarang memberi trauma seperti halnya kejadian gempa bumi maupun tsunami. Tentu hal ini dapat dilihat sebagai imbal-balik dari kegiatan manusia yang “bermain-main”, dan berusaha mengeksploitasi alam semesta.

Kejadian Blowout selama ini sering terjadi pada industri migas, dan jarang sekali mengakibatkan efek langsung kepada masyarakat, justru keselamatan pekerja yang memang dekat dengan sumber bencana sangat dikhawatirkan. Sehingga peraturan keselamatan kerja bidang migas sangat ketat, dapat kita lihat pada kasus Sukowati maupaun Sidoardjo tidak ada pekerja yang cedera, begitu pula dalam sejarah Blowout Indonesia maupun dunia hanya sedikit mencederai pekerja maupun manusia pada umumnya. Namun dalam kasus Sidoarjo telah mengakikatkan dampak terutama terhadap masyarakat yang sangat signifikan, walaupun pelan tapi pasti, hal ini diperparah dengan sangat lambatnya penanggulangan, baik karena keteledoran maupun karena faktor-faktor non-teknis yang disebabkan ketidak-tegasan dalam perintah serta tugas yang diberikan pada pelaksana di lapangan.
Akibat dari penanganan yang lambat dan lalai seperti ini mengakibatkan efeknya sangat dahsyat dan berlangsung sangat lama, dan akan menjadi sejarah baru dalam dunia migas atau mungkin satu-satunya di dunia, dimana panganan Blowout dilakukan lebih dari setahun.
Dalam statistik dunia sudah ratusan bahkan ribuan kali terjadi blowout, dan di Indonesia menurut catatan penulis dalam 35 tahun terakhir setidaknya telah terjadi blowout sebanyak 17 kali, sehingga hampir setiap 2-3 tahun terjadi kecelakaan Blowout pada saat pengeboran sumur. Bila dibandingkan dengan kegiatan pemboran 300-350 sumur setiap tahun, maka berarti hampir setiap 1000 sumur pemboran terjadi 1 kali kecelakaan blowout.
Disisi lain sejarah menunjukan bahwa seluruh kecelakaan blowout selalu dapat ditanggulangi, ada yang dengan cepat dan ada pula yang bisa berbulan-bulan.
Namun kecelakaan bukanlah hanya sebuah angka, tapi mengapa selalu berulang, Apakah kejadian ini sebagai imbalan dari alam kepada kita.
Antara Kecelakaan dan keteledoran
Indikasi awal sebuah Blowout adalah terjadinya kick yaitu masuknya fluida (air, minyak, atau gas) kedalam lubang sumur yang sedang dibor, kemudian kick yang tidak bisa dikontrol akan mengakibatkan fluida mengalir sampai ke permukaan yang dikenal dengan Blowout.
Apabila kick terdeteksi, setiap ahli pemboran sudah dibekali dengan keterampilan Pressure Control untuk menghentikannya. Sehingga seharusnya setiap ada indikasi kick selalu dapat ditanggulangi. Namun munculnya kick seringkali datang dalam waktu yang sangat cepat hanya beberapa menit saja, sehingga bencana Blowout yang sangat tidak diinginkan oleh setiap ahli pemboran bisa terjadi sewaktu-waktu.
Faktor alamiah saat pemboran dilakukan justru sangat dominan dalam kasus kick ini, karena pada saat perencanaan pemboran dimulai para pekerja hanya dibekali dengan prediksi yang dibuat ahli geologi dan geofisik tentang lapisan batuan yang akan ditembus, baik kualitas maupun perkiraan tekanannya, namun alam di bawah tanah dengan posisi ribuan meter tidak ada yang bisa memastikan, oleh karena itu kecelakaan kick dan blowout ini tetap saja terjadi dan mungkin tetap akan terjadi pada pemboran-pemboran sumur migas berikutnya.
Namun Kejadian Blowout dapat dihindari apabila selama pemboran dilakukan dengan penuh kehati-hatian dengan selalu melaksanakan pekerjaan sesuai SOP (Standard Operating Procedure), serta sebelumnya dilengkapi dengan informasi yang baik dari team Geologi dan geofisik.
Penyebab Kick atau blowout
Selama ini Blowout yang dikenal ada tua jenis, yaitu Surface Blowout (SBO) dan Underground Blowout (UGBO), dimana SBO bila fluida keluar melalui lubang pemboran, sedangkan UGBO bila keluar bukan dari lubang pemboran. Penanggulangan untuk SBO jauh lebih mudah dan cepat, tidak jarang dapat dilakukan hanya dalam beberapa jam, namun UGBO akan memerlukan waktu yang cukup lama, bisa mencapai berbulan-bulan.
Kasus di Sumur Sikowati-5 akhir bulan Juni 2006 di Bojonegoro adalah masih dalam tahap Kick, bukan blowout, karena gas yang naik masih dapat terdeteksi sehingga mampu ditangani dan dikeluarkan, kemudian diinjeksikan lumpur yang sesuai dan pemboran dapat diteruskan sesuai rencana semula. Namun bila kick ini tidak ditangani dengan tuntas, tidak dikeluarkan, bisa saja malah terjadi SBO ataupun UGBO yang mengerikan melebihi kasus Sidoardjo dapat terjadi, berutunglah tim Petrochina dengan segera menyelesaikan kick ini dan rnengeluarkan gas dalam annulus lubang sumur dengan terkendali. Adapun gas yang keluar harus dibakar sehingga tidak membahayakan lingkunan dan penduduk, justru akan sangat berbahaya bila dibiarkan lepas ke udara dan tidak dibakar, atau sebaliknya hanya menunggu dan menutup sumur tanpa
melakukan apa-apa, justru akan memicu terjadinya SBO ataupun UGBO.
Kasus di Sumur Banjarpanji-1 Sidoardjo pada saat Kick pertama kali terjadi telah ditanggulangi pula oleh team Lapindo, namun karena Pipa pemboran hanya sampai kedalaman 4241 feet (setengah lubang dengan kedalaman 9297 feet) maka masih ada potensi kick lanjutan (kedua, ketiga, dst) dapat terjadi sebelum seluruh lubang terisi dengan fluida lumpur yang memiliki densitas yang melebihi EMW (Equivalent Mud Weight, Tekanan batuan yang dinyatakan dalam satuan berat Lumpur).
Dari Laporan pemboran harian terbaca bahwa memang terjadi penganan yang mengakibatkan tekanan di dalam lubang melebihi tekanan rekah batuan, hal ini bisa terjadi karena sejak kedalaman 3580 feet sampai 9297 feet (5717 feet atau 1750 meter) lubang dalam keadaan terbuka tanpa pipa pelindung yang disebut Casing, sehingga terjadi UGBO. Kekhasan sumur BJP-l adalah, bukan gas atau minyak yang keluar, akan tetapi air asin-panas yang kemudian diperjalanan ke permukaan membawa tanah liat (Shale) sehingga muncul di permukaan sebagai lumpur-panas, maka diperlukan penanggulangan yang khusus.
Kedua kejadian di Jawa Timur ini menyadarkan kita, bahwa teknologi pemboran migas adalah termasuk teknologi yang beresiko kecelakaan sangat tinggi. Kick dan blowout adalah salah satu kecelakaan yang sering dihadapi dalam industri migas diantara puluhan jenis kecelakaan lainnya yang sering muncul.
Resiko Pemboran
Resiko pemboran dapat mengakibatkan kerugian finansial sampai ratusan juta dollar, kerugian lingkungan yang bisa tercemar, dan resiko bisa merenggut nyawa manusia terus berlanjut, namun Pemboran tidak harus dilarang di tempat sulit sekalipun, seperti di tempat yang penuh penduduk, di laut yang sangat dalam, namun pemboran di tempat sulit harus dilakukan dengan standar keselamatan dan keamanan yang tinggi. Hal ini mestinya tertuang dalam suatu dokumen yang mengikat antara pemerintah sebagai wakil masyarakat dengan perusahaan pelaksana, misalnya dalam RPL & RKL atau dalam dokumen tersendiri seperti Contingency Plan atau Emergency Respon Plan (Rencana Tanggap Darurat).
Namun menghindari resiko harus terus diusahakan, mulai dari peralatan yang baik, sampai pekerja yang memiliki keterampilan dan bersertifikat. Sehingga selama para pekerja melakukannya sesuai kaidah keteknikan yang benar. Dalam kasus BJP-1 Faktor terpenting yang melemahkan adalah belum terpasangnya pipa pelindung (casing) yang cukup panjang, dimana terdapat lapisan Shale sepanjang 2520 feet (750 meter) yang terbuka sehingga mengakibatkan pipa pemboran terjepit dan telah menghambat pengangan Kick dengan benar, serta lubang menjadi lebih mudah terpecahkan oleh tekanan di dalam lubang pemboran.
Siapa yang Bertanggung Jawab
Kejadian di BJP-l Sidoardjo jelas merupakan kecelakaan pada proses pemboran, sehingga penanggulangannya wajib dilaksanakan oleh operator pelaksana, sesuai dengan kaidah dalam kontrak kerjasama Migas, yaitu pihak pemerintah menyerahkan konsesi untuk dikelola dengan biaya dan resiko ada pada kontraktor, namun pemerintah akan membayar segala pengeluaran apabila lapangan sudah berproduksi di kemudian hari, namun pengeluaran yang dimaksud adalah pengeluaran dalam rangka memproduksikan migas, bukan kecelakaan akibat keteledoran, apalagi karena selama pelaksanaan sudah diluar dari rencana dan ketentuan yang ada.
Oleh karena itu biaya mematikan semburan bisa saja nantinya dibayar pemerintah dengan skema Cost Recovery (dibayar bila sudah berproduksi), namun beban kecelakaan yang mengakibatkan masyarakat dirugikan harus menjadi tanggung-jawab Lapindo, apalagi jual-beli tanah seluas 600 Ha tentu yang membayar harus Lapindo karena sertifikatnya akan menjadi kepemilikan Lapindo (ini sebagai jula-beli tanah biasa), begitu pula kerugian pengusaha yang terendam, dan reklamasi lingkungan sudah jelas harus ditanggung oleh Lapindo secara bertanggung jawab.

Pelayanan Pemboran

Pelayanan Pemboran

Pusat Sumber Daya Geologi melayani kegiatan pemboran eksplorasi yang meliputi pemboran untuk endapan batubara dan gambut, mineral logam (emas, perak, timah hitam, timah putih, dll), mineral non logam (pasir, batugamping, andesit, fosfat, dll) serta pemboran panas bumi.


Fasilitas Peralatan Pemboran dan Bengkel Alat Berat Serta Geofisika


Mesin bor Long Year 38 (Truck Mounted), Long Year 38, 34, 24, HC-28 (Skid Mounted), Koken RK-3A, OE-8BH (Skid Mounted), Tone Top 150 (Crawlwer Mounted), Tone THS-5m Skid Mounted, EDECO SD-40 (Skid Mounted), MECA BANKA, Winkie Drill, dll.Mesin Bubut CNC Cholchester Universal 650, Milling, Shaping, Gergaji, Bor, Mesin Las (TIG, MIG, Listrik, Ecetylene), Forklift 2 Ton, Crane 10 ton, dll. 


Crawler Drill



Truckmounted


Peralatan Bubut



Mesin


CNC



Crawler Drill


Geolistrik


GPS (Global Positioning System)   


Theodolite (T0) dan Waterpass



Peralatan Pemboran Eksplorasi



Peralatan Las

Kontrak Kerjasama Migas di Indonesia (1), “sejarah dan perkembangan”

Kontrak Kerjasama Migas di Indonesia (1), “sejarah dan perkembangan”

2009 September 25

Seiring perkembangannya di indonesia, bentuk kontrak kerjasama migas di indonesia telah memalui tiga model, yaitu sistem konsesi, kontrak karya, dan bagi hasil.

1. Sistem Konsesi, lebih dikenal dengan nama “Kontrak 5a”

Sistem ini dibuat pada zaman kolonial dengan mengacu pada Indische mijnwet 1899 yang menatur tentang pengusahan pertambanagn di indonesia. Konsesi adalahsuatu perjanjian yang dibuat oleh negara pemilik atau pemegang kuasa pertambangan dengan kontraktor untuk melakukan eksplorasi dan, jika berhasil, produksi serta memasarkan hasilnya tanpa melibatkan negara pemberi konsesi dalam manajemen operasi.1
Ketentuan yang berlaku pada konsesi migas antara lain,

  • Kontraktor bertindak selaku operator sekaligus bertanggug jawab atas manajemen operasi.
  • Kepemilikan minyak dan gas bumi berada di tangan kontraktor.
  • Kepemilikan aset berada di tangan kontraktor dengan batasan tertentu.
  • Negara mendapat pembagian pembayaran royalti dihitung dari tingkat produksi tertentu.
  • Pajak penghasilan dikenakan kepada kontraktor dari keuntungan bersih. (pajak penghasilan dan pajak tanah).

2. Kontrak Karya, berlaku sejak tahun 1960 sampai 1963
Sistem kontrak ini dikembangkan dari UU no. 37 Psp/1960 tentang pertambangan. Perjanjian kontrak karya memuat lima ketentuan pokok, antara lain:

  • Setiap perusahaan melepas hak konsesi yang diperoleh pada masa kolonial dan sebagai gantinya setuju menjadi kontraktor salah satu dari tiga perusahaan negara (Pertamin, Permina, dan Permigan).
  • Perusahaan diberi kontrak berjangka waktu 20 tahun untuk melanjutkan eksploitasi ke daerah2 konsesi lama.
  • Fasilitas pemasaran dan distribusi diserahkan kepada perusahaan negara yang mengntrak dalam waktu lima tahun dengan harga yang telah disetujui bersama.
  • Fasilitas kilang akan diberikan kepada INdonesia dalam waktu 10-15 tahun dengan nilai yang telah disetujui bersama.
  • Keuntungan operasi perusahaan asing dibagi 60:40 dengan pemerintah.

3. Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract)
Model ini diperkenalkan oleh Ibnu Sutowo pada 1960. Model ini diadopsi oleh banyak negara di dunia termasuk Malaysia dengan Petronasnya. Sistem PSC ini baru diterapkan di Indonesia sejak tahun 1964 dan telah melalui beberapa perubahan dan generasi hingga sekarang. Pada model kontrak ini, kontraktor hanya diberi hak ekonomis atas kuasa pertambangan yang dikuasai Perusahaan Negara melalui pola pembagian hasil (Production Sharing), bukan keuntungan dalam bentuk uang (profit sharing).